Studi: Waspada, Smart TV Mesin Pengumpul Data

Studi: Waspada, Smart TV Mesin Pengumpul Data
Menambahkan Smart TV ke dalam ruang tamu akan mengawasi sikap Anda di dalam rumah. Sebuah studi gres dari Princeton University memperlihatkan TV yang terhubung ke internet (untuk streaming layanan ibarat Netflix dan Hulu), sarat dengan pelacak yang haus data.

“Jika Anda memakai perangkat ibarat Roku dan Amazon Fire TV, ada banyak perusahaan yang mampu mengetahui secara komprehensif wacana apa yang Anda tonton,” tulis Arvind Narayanan, associate professor ilmu komputer di Princeton, dalam email ke The Verge.

“Sangat sedikit pengawasan atau kesadaran akan praktik mereka, termasuk di mana data itu dijual.”

Tentu saja, data yaitu bab dari alasan mengapa harga Smart TV menjadi sangat murah. Hari ini, Roku menjual kurang dari $200, sebagian disubsidi oleh iklan bertarget.

Secara teknis, orang-orang oke untuk menjual data mereka dikala mereka membelinya. Tetapi banyak yang tidak sadar itu terjadi.

Itu juga berlaku untuk teknologi rumah arif lainnya. Dalam studi yang berbeda, para peneliti di Northeastern University mengamati 81 perangkat rumah arif dan menemukan bahwa beberapa (termasuk bel pintu Amazon dan Alexa, dan bel pintu Zmodo), memantau dikala pengguna berbicara atau bergerak, bahkan dikala mereka tidak memakai perangkat.

“Aplikasi yang dipakai untuk mengatur perangkat tidak memperingatkan pengguna bahwa bel pintu melaksanakan perekaman ibarat itu dalam waktu nyata, bel pintu tidak memperlihatkan indikasi perekaman sedang terjadi,” kata surat kabar itu.

Untuk memahami berapa banyak pengawasan yang terjadi di Smart TV, Narayanan dan Hooman Mohajeri Moghaddam menciptakan bot yang secara otomatis memasang ribuan jalan masuk di Roku dan Amazon Fire TV.

Bot kemudian menggandakan sikap insan dengan menjelajahi dan menonton video. Segera sehabis TV memutar iklan, TV akan melacak data apa yang sedang dikumpulkan di belakang layar.

Beberapa informasi, ibarat jenis perangkat, kota, dan negara. Kemudian data lain, ibarat nomor seri perangkat, jaringan Wi-Fi, dan ID iklan, mampu dipakai untuk memperlihatkan seseorang dengan tepat.

“Ini memberi mereka citra yang lebih lengkap wacana siapa Anda,” kata Moghaddam.

Dia mencatat bahwa beberapa channel bahkan mengirim alamat email dan judul video yang tidak dienkripsi ke pelacak.

“Studi ini menemukan pelacak pada 69 persen channel Roku dan 89 persen channel Amazon Fire.”

“Beberapa di antaranya terkenal, ibarat Google, sementara banyak yang lain yaitu perusahaan yang relatif tidak dikenal,” kata Narayanan. Layanan iklan Google, DoubleClick ditemukan di 97 persen jalan masuk Roku.

“Seperti publisher lain, pengembang aplikasi Smart TV mampu memakai layanan iklan Google untuk menampilkan iklan di konten mereka, dan kami telah membantu merancang ajaran industri untuk hal ini yang memungkinkan pengalaman keamanan privasi bagi pengguna,” kata juru bicara Google dalam sebuah pernyataan melalui email untuk The Verge.

“Bergantung pada preferensi pengguna, pengembang mampu menyebarkan data dengan Google yang ibarat dengan data yang dipakai untuk iklan di aplikasi seluler atau di web.”

Baik Roku dan Amazon Fire memungkinkan pengguna mematikan iklan yang ditargetkan. Tetapi melaksanakan hal itu hanya akan menghentikan ID iklan pengguna biar tidak dilacak, bukan menyetop informasi pengidentifikasi lainnya.

“Kontrol privasi yang lebih baik tentu akan membantu, tetapi mereka pada balasannya hanya menjadi plester,” kata Narayanan.

“Model bisnis dari iklan yang ditargetkan di TV tidak sesuai dengan privasi, dan kita perlu menghadapi kenyataan itu. Untuk memaksimalkan pendapatan, platform menurut penargetan iklan kemungkinan akan beralih ke penggalian data dan personalisasi/persuasi algoritmik biar orang-orang tetap terpaku pada layar selama mungkin.”

About the Author: kyak

You might like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *