Mau Beli iPhone XS dari Luar Negeri? Begini Cara Menghitung Pajaknya

Apple resmi mengumumkan kehadiran trio seri iPhone terbarunya. Ketiganya mempunyai nama iPhone XS, iPhone XS Max, dan iPhone XR. Seperti biasa, iPhone selalu memikat penggemar untuk mampu membelinya. Meski, untuk mampu mempunyai lebih cepat harus beli dari luar negeri.

Urusan harga, perangkat-perangkat Apple terbaru itu hadir dengan harga yang bagi sebagian orang cukup menguras kantong. Untuk iPhone XS dilepas dengan harga mulai USD 999 atau setara Rp 14,8 jutaan (kurs Rp 14.810 per USD) untuk varian internal storage 64 GB.

Sementara untuk iPhone XS Max dengan layar yang lebih gede, Apple Fanboy mesti merogoh kocek mulai dari USD 1.099 atau setara dengan Rp 16,3 jutaan. Itu, untuk varian internal storage terendah yakni 64 GB.

Terakhir, untuk iPhone XR yang menjadi perangkat iPhone paling murah dari Apple. Calon konsumen setidaknya mesti menyiapkan uang mulai dari USD 799 atau setara dengan Rp 11,1 jutaan untuk membawa pulang varian terendah dengan penyimpanan internal 64 GB.

Eits, tapi tunggu dulu. Harga tersebut merupakan hitung-hitungan bernafsu dengan kurs rupiah ketika ini. Belum menghitung biaya ongkos pembelian agen maupun hal lain. Bisa jadi, bakal lebih mahal dari itu. Bahkan, beberapa penjual online sudah membuka preorder untuk iPhone Xs Max 64 GB hingga Rp 24,8 juta.

Lalu, bagaimana jikalau kita membelinya eksklusif dari luar negeri? Apakah lebih menguntungkan? im-ku.com akan melaksanakan simulasi secara rinci.

Sebagai contoh, sepulang dari Amerika Serikat, Anda membeli ketiga varian iPhone tersbut. Katakanlah, Anda pergi bersama dua sahabat dan masing-masing membeli salah satu iPhone keluaran terbaru dengan seri berbeda.

Mari kita umpamakan dua sahabat anda berjulukan Budi dan Yuli. Anda membeli iPhone XS, Budi iPhone XS Max, dan Yuli iPhone XR. Semuanya membeli iPhone dengan kapasitas internal yang sama, yakni 64 GB.

Dalam aturan, ketika hingga di Indonesia dan petugas mendapati pembelian itu, ada pajak yang harus dibayar. Rinciannya, anda akan dikenakan tarif bea masuk sebesar 0 persen, Pajak Pertambahan Nilai (PPn) sebesar 10 persen, dan tarif Pajak Penghasilan (PPh) pasal 22 sebesar 7,5 persen bila mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan 15 persen jikalau tidak.

Semua tertuang terperinci dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 203/PMK.04/2017 ihwal Ketentuan Ekspor dan Impor Barang Yang Dibawa Oleh Penumpang dan Awak Sarana Pengangkut. Beleid itu merupakan hukum terbaru dari Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 188 Tahun 2010.

Sebenarnya, masih ada Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) bila barang itu termasuk barang mewah. Namun, untuk ponsel mirip iPhone belum dikenakan pajak barang mewah.

Selain itu, dalam hukum tersebut Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) juga telah memutuskan batas bebas bea masuk yang gres yakni sebesar USD 500 per individu. Dalam hukum lama, batas bebas bea masuknya yaitu USD 250.

Membeli iPhone XS

Itu artinya, jikalau membeli iPhone XS 64 GB, angka yang menjadi faktor penentu pajak yaitu USD 999 – USD 500. Pengurangan itu yaitu “jatah” pembebasan pajak yang dimiliki masing-masing individu. Maka, yang akan dikenakan pajak tinggal USD 499 atau sekitar Rp 7,4 juta. Rincian yang harus dibayar:

  1. Rp 7,4 juta x bea masuk 0 persen = Rp 0.
  2. Rp 7,4 juta x PPn 10 persen = Rp 740 ribu.
  3. Rp 7,4 juta x 7,5 persen = Rp 555 ribu dengan NPWP dan Rp 1,1 juta tanpa NPWP
  4. Rp 7,4 juta x PPnBM = Rp 0 (tidak termasuk barang mewah)

Jika mempunyai NPWP, maka pajak yang harus dibayar yaitu Rp 740 ribu + Rp 555 ribu = Rp 1,3 juta. Kalau tidak mempunyai NPWP, hitungannya menjadi Rp 740 ribu + Rp 1,1 juta = Rp 1,84 juta. Bea masuk tersebut berlaku untuk Anda yang membeli iPhone XS.

Membeli iPhone XS Max

Sementara itu untuk Budi, harga iPhone XS Max – USD 500 = USD 599 atau setara Rp 8,9 juta. Hitungannya:

  1. Rp 8,9 juta x bea masuk 0 persen = Rp 0.
  2. Rp 8,9 juta x PPn 10 persen = Rp 890 ribu.
  3. Rp 8,9 juta x 7,5 persen = Rp 667 ribu dengan NPWP dan Rp 1,3 juta tanpa NPWP
  4. Rp 8,9 juta x PPnBM = Rp 0 (tidak termasuk barang mewah)

Maka pajak yang harus dibayar Budi yaitu Rp 890 ribu + Rp 667 ribu = Rp 1,56 juta. Kalau tidak mempunyai NPWP, hitungannya menjadi Rp 890 ribu + Rp 1,3 juta = Rp 2,2 juta.

Membeli iPhone XR

Hal yang sama juga berlaku untuk Yuli, harga iPhone XR USD 799 – USD 500 = USD 299 atau setara Rp 4,4 juta. Hitungan pengenaan pajaknya :

  1. Rp 4,4 juta x bea masuk 0 persen = Rp 0.
  2. Rp 4,4 juta x PPn 10 persen = Rp 440 ribu.
  3. Rp 4,4 juta x 7,5 persen = Rp 330 ribu dengan NPWP dan Rp 660 ribu tanpa NPWP
  4. Rp 4,4 juta x PPnBM = Rp 0 (tidak termasuk barang mewah)

Maka pajak yang harus dibayar Yuli yaitu Rp 440 ribu + Rp 330 ribu = Rp 770 ribu. Kalau tidak mempunyai NPWP, hitungannya menjadi Rp 440 ribu + Rp 660 ribu = Rp 1,1 juta.

Itu berarti, ketika membawa iPhone XS dari luar negeri, total uang yang dikeluarkan termasuk uang pembelian ponsel yaitu sekitar Rp 16,1 juta. Dengan catatan mempunyai NPWP. Sementara untuk iPhone XS Max yaitu sebesar Rp 17,9 juta jikalau mempunyai NPWP. Terakhir untuk iPhone XR biaya yang dikeluarkan yaitu Rp 11,8 juta jikalau mempunyai NPWP.

Namun, ada hal yang harus diperhatikan dengan kondisi pelemahan rupiah ketika ini. Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menawarkan rupiah kembali mengalami pelemahan. Tercatat, rupiah kembali melemah menjadi Rp 14.835 per USD.

Dengan nilai tukar yang terus berfluktuasi, membeli barang secara eksklusif dari luar negeri sungguh tidak disarankan. Pasalnya, hal itu malah akan semakin menciptakan rupiah tak kuasa menahan keperkasaan dolar AS.

“Sebaiknya menahan diri untuk membeli produk impor, khususnya barang elektronik mirip handphone dan laptop. Impor handphone masuk dalam kategori impor barang konsumsi. Sedangkan total impor barang konsumsi tumbuh 27 persen dan nilainya USD 9,9 miliar,” kata Ekonom INDEF Bhima Yudhistira

Sebagai saran, lebih baik prioritaskan membeli barang dalam negeri yang notabene bertransaksi memakai rupiah. Kedua, membeli dari dalam negeri juga tidak akan menciptakan Anda semakin banyak menukarkan rupiah ke dolar. Sebab hal itu akan semakin memperburuk kondisi. Kalau bisa, untuk sementara ini minimalisasi transaksi dengan memakai dolar.

“Kalau mau bantu Pemerintah menguatkan nilai tukar, maka pembelian barang apalagi yang masuk kategori luxury goods (barang mewah) itu sebaiknya ditunda dulu,” tandasnya.

About the Author: kyak

You might like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *